SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu /
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di website resmi Forum Pecinta masjid Aceh
WAKTU :

MAKNA HIJRAH DALAM PANDEMI COVID 19,oleh Ust. Ir. Faizal Adriansyah, M.Si

Terbit 19 Agustus 2020 | Oleh : admin | Kategori : Berita
MAKNA HIJRAH DALAM PANDEMI COVID 19,oleh Ust. Ir. Faizal Adriansyah, M.Si

Dua kata kunci yang penting kita pahami dari kesuksesan Hijrah Rasulullah SAW adalah doa dan usaha atau tawakkal dan ikhtiar. Karena itu mekanisme hijrah tidak sama dengan Isra dan Miraj, ada yang bertanya mengapa Hijrah Rasulullah harus bersusah payah sampai harus bersembunyi, mengendap-ngendap dikegelapan malam, menghindari kejaran para kuffar Quraisy yang akan membunuh beliau, bersembunyi di dalam gua Tsur. Hijrah mengapa harus dilakukan berhari- hari melintas padang sahara yang tandus dan gersang, seakan Rasulullah menyiksa diri. Mengapa tidak berdoa saja kepada Allah agar pertolongan datang, bukankah sebelum hijrah beliau sudah melaksanakan Isra Miraj yang menakjubkan dalam hitungan jam bisa melintas sampai ke Palestina yang jaraknya sekitar 1500 km. Kalau hanya Madinah tentu sangat dekat hanya 435 km (270 miles) jaraknya dari Mekkah. Mengapa beliau tidak berdoa saja agar Allah menolong beliau dengan mengirim “Buraq” seperti ketika Isra Miraj, sehingga dalam sekejab dapat berada di Madinah.

Pertanyaan ini dapat kita jawab, bahwa Hijrah sangat berbeda dengan Isra dan Miraj, karena Hijrah memiliki pesan sejarah untuk umat Islam sepanjang masa bahwa untuk meraih kesuksesan dan kejayaan tidak bisa hanya dengan berpangku tangan, hanya dengan berdoa semata mengharap pertolongan turun dari langit. Hijrah adalah proses manusiawi yang harus dijalani dalam meraih cita-cita melalui usaha dan doa, melalui ikhtiar dan tawakal. Perpaduan kedua dimensi ini menjadikan Allah menurunkan pertolongannya, karena itu di dalam proses hijrah kita lihat ada perpaduan antara ikhtiar manusia dan pertolongan Allah, misalnya proses keluarnya Rasulullah dari rumahnya tanpa diketahui musuh-musuh Islam yang mengepung rumahnya, demikian juga keajaiban peristiwa Gua Tsur yang mengecoh para pemburu Rasulullah dengan adanya sarang laba-laba dipintu gua dan burung merpati yang sedang mengerami telornya.

Demikianlah ternyata melalui Hijrah kita dapat menangkap “pesan Rasulullah yang universal” sepanjang masa untuk seluruh umat Islam kapanpun dan dimanapun berada bahwa untuk melakukan perubahan menuju kepada kemajuan, kesejahteraan, kemakmuran, keadilan harus dengan perencanaan, perjuangan, kerja keras, keiklasan dan kesungguhan serta memiliki keyakinan akan pertolongan Allah dengan doa dan tawakal.

Memaknai peristiwa Hijrah dalam kondisi Pandemi Covid 19 hari ini sangatlah relevan. Kondisi dunia sudah sekitar 7 bulan dalam suasana mencekam, perubahan drastis terjadi dalam kehidupan manusia. Wabah Covid 19 berdampak multi dimensi disemua sisi kehidupan manusia baik sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, politik dan bahkan agama. Banyak yang mulai putus asa ada yang menjadi sangat ketakutan, paranoid berlebihan, sebaliknya ada yang menganggap enteng masalah Covid 19 bahkan ada yang berpandangan Covid 19 sesungguhnya tidak ada. Namun fakta korban yang sakit dan kematian terus bertambah.

Bagaimana sebagai orang beriman mensikapi keadaan ini ?
Dalam peristiwa Hijrah jelas Rasulullah mencontohkan bahwa usaha dan doa adalah kunci yang penting untuk meraih pertolongan Allah. Usaha dalam bentuk menjaga diri dengan senantiasa melakukan apa yang diatur dalam protokol kesehatan adalah penting, namun itu saja tidak cukup harus juga diimbangi dengan protokol agama berupa dzikir, doa, shadaqah dan taubat. Kalau yang pertama bisa membangun imunitas lahiriah maka yang kedua dapat membangun imunitas rohaniah. Apabila kedua persyaratan ini kita lakukan insyaAllah pertolongan Allah akan turun, dan Covid 19 hilang dari muka bumi. Karena sesungguhnya hanya Allah-lah yang bisa menghilangkan dan mengangkat semua bala dan bencana dari atas muka bumi. “Innallaha ‘ala kulli syaiin qodir” (sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu).

Sebagai penutup mari kita yakini hadist Rasulullah SAW “Ma’anzalallahu daa an, illa anzala lahu syifaan,” (Allah tidak akan menurunkan satu penyakit kecuali Allah turunkan juga obatnya) (HR. Bukhari)

Banda Aceh, 1 Muharram 1442 H

SebelumnyaSEORANG JAMAAH MENINGGAL SETELAH MELAKSANAKAN SHALAT ZUHUR DI MASJID RAYA BAITURRAHMAN Sesudahnya4 Ulama Aceh yang Berpengaruh

Berita Lainnya

0 Komentar