SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu /
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di website resmi Forum Pecinta masjid Aceh
WAKTU :

Pemuda Gampong Peunyerat berziarah ke Makam Ulama Turki, Syech Baba Daud Rumi

Terbit 14 September 2020 | Oleh : admin | Kategori : Uncategorized
Pemuda Gampong Peunyerat berziarah ke Makam Ulama Turki, Syech Baba Daud Rumi

Banda Aceh, Sejumlah Pemuda dan Remaja Gampong Peunyerat Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh,tadi malam (14/9/2020) melaksanakan Pengajian sekaligus berziarah ke Salah satu Ulama Aceh Asal Turki yaitu Syech Baba Daud Rumi di Banda Aceh. Ketua pengajian pemuda Peunyerat,Tgk.Rahmad Iqbal kepada media mengatakan bahwa ini yang kesekian kalinya para pengajian pemuda Peunyerat melakukan ziarah ke makam-makam Ulama yang ada di Aceh. Pengajian pemuda dan remaja Peunyerat yang di pimpin oleh Tgk.Mahyuddin Syamali ini membuat para pemuda dan remaja gampong Peunyerat termotivasi serta bertambah semangat dalam menuntut ilmu agama, berbagai program-program telah dijalankan termasuk salah satunya program ziarah ke makam ulama-ulama di Aceh.

Program kali ini berziarah ke makam Syech Baba Daud Rumi yang berlokasi di Gampong Mulia Kota Banda Aceh.
Dalam beberapa referensi sejarah dikatakan bahwa Syekh Baba Daud Rumi adalah ulama dari keturunan Turki yang telah berkontribusi dalam menyebarkan Islam.
Nama lengkapnya adalah Baba Daud Al-Jawiy bin Isma’il bin Agha Mushthafa bin Agha Ali Ar-Rumi.Beliau merupakan ulama besar yang memberikan pengaruh besar bagi peradaban Islam di Aceh. Meski generasi sekarang ini tidak pernah bertemu langsung dengannya, tapi sosok yang lebih dikenal dengan Teungku Di Leupu tersebut merupakan guru bagi masyarakat Aceh.
Menurut salah seseorang akademisi Turki Mehmet Ozay dalam tulisannya “Rumi Networks of Al Sinkili : A Biography of Baba Dawud” di jurnal internasional Studi Islamika, yang berpusat di Jakarta mengatakan Baba Daud Rumi di yakini hidup di Aceh antara tahun 1650 hingga 1750 Masehi. Baba Daud Rumi hidup selama masa Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-16 dan 17. 
Baba Daud Rumi, kata Ozay, adalah murid utama ulama Aceh Syeikh Abdurrauf as-Singkili atau Teungku Syiah Kuala.
Salah satu karya tersohor atau terkenal Baba Daud Rumi adalah Risalah Masailal Muhtadi Li Ikhwan al-Mubtadi yang diajarkan di lembaga-lembaga Islam di Aceh dan di seluruh dunia Melayu.
Direktur Rumoh Manuskrip Aceh Tarmizi Abdul Hamid adalah orang yang masih menyimpan sejumlah manuskrip asli Baba Daud Rumi, salah satunya Masailal Muhtadi.
Tarmizi menyampaikan kitab Masailal Muhtadi dikarang oleh Baba Daud Rumi pada 1691 masehi dan tersebar luas di dunia Melayu saat itu.
Kitab ini ditulis dengan Bahasa Arab Melayu atau Jawi yang menjelaskan akidah, dasar-dasar ibadah, dan hukum fikih.
“Kitab ini sangat terkenal hingga Malaysia, Thailand, dan Afrika Selatan,”
Baba Daud Rumi adalah murid kesayangan ulama besar Aceh Syeikh Abdurrauf as-Singkili atau akrab disebut Tengku Syiah Kuala yang hidup antara tahun 1615-1693.
Oleh karena itu, As-Singkili memberikan Baba Daud Rumi kesempatan untuk mendirikan dayah atau pesantren di Banda Aceh.
Dayah Leupeue Peunayong, adalah sebuah dayah terkemuka di Aceh di mana Baba Daud bertugas sebagai pengajarnya. Jadi beliau sangat terkenal di Aceh,
Baba Daud Rumi, dan juga membantu menulis naskah kitab tafsir karangan As-Singkili yang berjudul Turjuman al-Mustafid.
Turjuman al-Mustafid merupakan kitab tafsir al-Qur’an pertama dan terlengkap yang ditulis di dunia Melayu, dalam bahasa Melayu.Saat itu, bahasa Melayu menjadi Bahasa internasional di kawasan Asia Tenggara.
Kitab ini telah berperan penting dalam peningkatan pemikiran Islam didunia Melayu,
Karya lain Baba Daud Rumi, adalah Asrar Al Suluk Ila Malik Al-Muluk yang berisikan ajaran tasawuf, tarikat, dan zikir.

Mengapa Baba Daud digelar sebagai Ar-Rumi?
Untuk pertama-tama, terlebih dahulu kita memberikan penjelasan tentang asal kata Rum. Anatolia yang saat ini dikenal sebagai wilayah utama Turki, merupakan kawasan yang berada dibawah hegomoni kekaisaran Bizantium yang juga disebut Kekaisaran Timur Roma pada masa lalu. Masyarakat yang menduduki teritorial anatolia saat itu, di panggil sebagai orang Rum Sebelum pusat negara Saljuki dan Turki Usmani dapat menguasai wilayah ini. Oleh sebab itulah, mengapa Anatolia telah jauh dikenal sebagai daratan Rum. Disisi lain, Sumber-sumber Arab dan Persia memakai nama Rum untuk kekaisaran Bizantium dan Roma.
Setelah Bangsa Turki Saljuki berhasil merobohkan Anatolia pada permulaan abad ke-13, bangsa Turki mendiami Anatolia dan kemudian masyarakat yang hidup disekitar wilayah ini mulai memanggil mereka dengan gelar Rum.
Setelah Fatih Sultan Mehmed II (sang penakluk) berhasil menguasai Konstantinopel, nama Rum mulai dipakai untuk golongan Turki. Oleh karena itu, telah menjadi suatu kebiasaan umum bangsa Turki dipanggil sebagai bangsa Rum, terutama mereka yang tinggal dikawasan Anatolia, tepatnya saat Turki Usmani berada pada puncak kekuasaan bagi seluruh dunia pada pertengahan kedua abad ke-15. kekuatan politik, ekonomi, dan budaya Turki Usmani juga mempengaruhi negara-negara Islam di dunia Melayu dan nusantara. Itulah sebabnya mengapa orang-orang Melayu memanggil Sultan Turki Usmani sebagai ‘Raja Rum’ dikarnakan keberhasilannya menaklukkan Konstantinopel.
Sebagai hubungan antara Kesultanan Turki Usmani dan Kesultanan Aceh Darussalam, bangsa Turki lebih banyak datang mengunjungi Aceh dan mereka juga dipanggil dengan panggilan yang sama, tidak hanya oleh orang-orang Aceh sendiri tapi juga oleh penduduk di dunia Melayu. Azyumardi Azra mengatakan bahwa Raja Rum biasanya disebut-sebut dalam manuskrip Melayu sebagaimana yang tertulis berikut ini:“ ada narrasi istimewa yang ditransmisikan dari generasi ke generasi tentang kesultanan Rum dalam dunia Melayu. Pada masa dahulu, bangsa Arab dan Persia memiliki peran penting dalam hal penyebaran islam diwilayah ini. Bagaimanapun, tidak ditemukan informasi detail yang menyatakan Turki juga ikut ambil andil dalam periode islamisasi pada masa-masa awal.
Berdasarkan hasil penelitian kita bahwa alasan Baba Daud di sebut Ar-Rum karena leluhurnya berasal dari Anatolia, Turki. Argumen lain yang mendukung pendapat ini adalah Emperium, sebuah desa yang terletak di pusat kota Banda Aceh. Alasan pemberian nama ini diketahui Sejak adanya pengunjung pertama yang berasal dari wilayah Turki pada abad ke-16. kata Emperium terdiri dari dua kata: ‘empe’ dan ‘rium’. ‘Empe’ berarti sebuah penghormatan. Sedangkan ‘Rium’, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, dipakai untuk sekelompok orang yang datang dari Anatolia. Maka, kata ‘Emperium’ mulai dipakai oleh masyarakat Aceh untuk mengekspresikan penghormatan mereka pada komunitas Turki di Aceh.

Begitulah kira-kira referensi pendapat-pendapat sejarah mengenai biografi syech Baba Daud Ar Rumi, semoga menjadi motivasi kepada generasi-generasi muda sekarang dalam mempelajari sejarah-sejarah penyebaran islam oleh ulama-ulama dulu sehingga bisa bertambah semangat untuk mengkaji ilmu-ilmu agama.Sukses selalu untuk pemuda dan remaja gampong Peunyerat,insyaAllah kedepan akan lahir ulama-ulama dari gampong Peunyerat.Amiin

Sebelumnya4 Ulama Aceh yang Berpengaruh SesudahnyaFPM Akan Menggalang Dana untuk Pembebasan Tanah Wakaf Rumah Tahfid KQS Urwatul Wusqa Aceh

Berita Lainnya

0 Komentar